Biografi Ronny Lukito

Bagi para pecinta alam pasti tidak asing dengan produk Eiger. Produk Eiger saat ini memang menjadi gear lokal yang paling diminati di Indonesia baik dikalangan para pegiat alam maupun masyarakat umum. Eiger didirikan oleh Ronny Lukito seorang pengusaha tas yang lahir pada tahun 1962 di Bandung. Ronny Lukito merupakan anak ke tiga dari enam bersaudara pasangan Lukman Lukito dan Kurniasih. Ronny memiliki darah campurn Buton, Sumatera dan Jakarta. Kedua orang tuanya menyambung hidup dengan cara berjualan tas. Ekonomi keluarga ini sedikit memprihatinkan. Orang tua Ronny Lukito bukanlah orang berada. Di masa remajanya, Ronny tinggal di Bandung. Ia merupakan remaja yang rajin dan tekun, dia bukanlah lulusan perguruan tinggi melainkan hanya lulusan STM.

Sebenarnya ia sangat menginginkan melanjutkan studinya keperguruan tinggi swasta di Bandung, namun ketiadaan dana membuat Ronny mengurungkan niatnya. Sejak ia STM, Ronny biasa berjualan susu yang dibungkus dalam plastik kecil, diikat dengan karet dan kemudian dijual ke rumah – rumah dengan motor miliknya. Masa remajanya dilewati dengan kesederhanaan dan jauh dari kata serba ada. Hidup di tengah keadaan yang pas – pasan tidak menyurutkan semangat Ronny Lukito. Orang tuanya yang sebagai penjual tas membuat Ronny kecil sudah terbiasa melihat proses produksi sebuah tas. Bahkan, ia bersama saudaranya juga ikut terjun langsung ke bisnis tersebut. Dari proses packing tas, merapikan tas di display, serta menjaga kasir bila ada pembeli. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi modal awal Ronny dalam berbisnis tas dan mengikuti jejak orang tuanya. Tak terpikirkan oleh Ronny akan menjadi pengusaha. Bahkan orang tuanya pun tidak mengarahkannya untuk menjadi pengusaha. Semenjak lulus STM, Ronny berpikiran realistis dalam melihat perekonoman keluarga. Lantas ia memprioritaskan membantu berjualan orang tuanya.

Sejak tahun 1976, ketika itu Ronny masih duduk di bangku STM, toko tas ayahnya mulai menjual produknya sendiri dengan merk Butterfly. Nama ini diambil dari nama sebuah merk mesin jahit buatan Cina yang mereka pakai. Ronny sendiri membantu membeli bahan dan mengantarkan barang dagangan ke pelanggan. Bahkan, sebelum berangkat sekolah, Ronny masih sempat berjualan susu dan sepulang sekolah ia bekerja di bengkel motor sebagai montir. Ronny mudah menyerap ilmu yang diberikan ayahnya. Tak lama bekerja di toko ayahnya, Ronny lantas memulai usaha tasnya sendiri.

Pada tahun 1979, Ronny menginginkan melanjutkan kuliah, namun orang tuanya tidak sanggup membiayai. Oleh karena itu, ia memutuskan memulai mengembangkan bisnis pembuatan tas. Sedikit demi sedikit keuntungan dari berjualan tas didapatkan. Keuntungan dari bisnis ini selanjutnya dikembangkan dengan menambah mesin jahit, peralatan jahit, dan bahan baku pembuatan tas. Dengan bantuan pegawainya yang bernama Mang Uwon, Ronny melanjutkan memproduksi tasnya. Produk tas Ronny mulai dimasukkan ke Matahari pada periode tahun 1983 – 1984 dan mengajukan sebagai pemasok. Namun sayangnya ia ditolak hingga pengajuan ke 13 barulah produknya diterima dan saat itu harga per satu tas belum sampai Rp. 300.000

Strategi pemasaran mulai dijajakinya. Ia mulai terjun sendiri ke daerah – daerah untuk mencari pengecer baru untuk mempermudah pemasaran produknya. Ia rajin berkeliling ke daerah – daerah. Ia membuang kemalasannya dan sadar akan masa depan. Ia berangkat ke kota – kota lain guna mempromosikan produknya, membangun mitra dan jaringan pasar. Ia juga memutuskan untuk meggunakan jasa konsultan dan belajar privat tentang menejemen serta kursus keuangan. Bila ada seminar atau kursus yang bagus ia selalu mengikutinya. Banyak juga buku – buku yang relevan yang ia baca sebagai pengembangan diri.

Pada tahun 1984, Ronny sudah mampu membeli rumah seluas 600 m2 untuk menambah produksinya. Dua tahun kemudian pada tahun 1986, Ronny membeli tanah lagi seluas 6000 m2 guna menambah ruang produksi. Setelah tahun 1986 dia mulai merekrut marketing profesional. Dia belajar banyak mengenai peluang pasar bisnis tas serta lika - liku di lapangan. Akhirnya, cita – cita Ronny menjadi pemain besar mulai terlihat setelah Matahari, Gramedia, Gunung Agung dan dept store lain mulai menjual produknya seperti Eiger, Export dan Bodypack. Tak hanya produk tas, Ronny juga mengembangkan bisnisnya ke produk lain seperti dompet, sarung handphone, jaket dan lain - lain. Salah satu kebiasaannya adalah kemauannya untuk belajar dan mengembangkan diri. Dengan cara inilah ia berkembang dan sukses hingga saat ini.
Baca Juga : Merk Outdoor Gear Lokal dan Impor

Merk Produk Perusahaan B&B dari Ronny Lukito
PT. Eksonindo Multi Product Industry milik Ronny Lukito berhasil menjual merk yang mampu menguasai pasaran Indonesia bahkan hingga ke luar negeri seperti Libanon, Singapura, Filipina, dan Jepang. Masing – masing merk memliki ciri kas sendiri, diantaranya :

Eiger
Eiger berdiri pada tahun 1993. Nama Eiger diambil dari gunung yang ada di negara Siwss yaitu Gunung Eiger. Eiger ditujukan pada kegiatan outdoor seperti pendakian, camping, panjat tebing dan aktifitas outdoor lain. Saat pertama terbentuknya Eiger, saat itu Eiger belum memiiki toko hanya sebatas kontrakan yang difungsikan sebagai kantor. Pada tahun 1998 Eiger mulai memproduksi produknya sendiri dengan diawali 2 tukang jahit hingga kini mencapai 800 penjahit di pabrik wilayah Soreang, Bandung.

Exsport
Melihat perkembangan perusahaan yang semakin pesat, Ronny mulai membangun tempat produksi baru di Kopo Bandung dengan luas lahan 6000 m2 serta dengan merk baru yaitu Exxon. Selanjutnya, Ronny mengira bahwa Exxon lebih mirip perusahaan minyak bernama Exxon Mobil Corporation, maka ia mengganti nama Exxon di perusahannya menjadi Exsport. Exsport ditujukan pada anak muda khususnya putri dengan desain dan warna yang khas.

Bodypack
Bodypack ditujukan pada penunjang keseharian di kalangan anak muda yang berjiwa muda. Pasaran yang ditargetkan adalah mahasiswa dan orang kantor yang membawa laptop dan gadget dalam keseharian.

Neosack
Neosack ditujukan pada perlengkapan sekolah dengan target remaja SLTP dan SMU. Xtreme
Produk Xtreme ditujukan untuk kebutuhan pengendara motor khususnya pria dari ujung kaki hingga ujung kepala. Produk ini memiliki tagline “The Ultimate Riding Gear”.

Nordwand
Seperti produk Eiger, Nordwand juga ditargetkan pada para pegiat alam namun dengan harga setingkat dibawah Eiger.

Dalam setahun, perusahaan ini setidaknya mampu memproduksi 2.500.000 tas dengan 8.000 desain berbeda. Dengan keluarnya berbagai macam merk serta fungsi yang lebih spesifik, diharapkan produk mereka akan mampu menguasai pasaran. Model yang lagi trend di internasional menjadi acuan pengembangan produknya. Dengan didukung desainer yang berasal dari berbagai universitas seperti ITB maupun Trisakti perusahaan ini setidaknya mampu mengembangkan 40 model tas setiap bulan.
Blogger
Disqus

No comments