Sebab - Sebab Pendaki Meninggal

Sebab - Sebab Pendaki Meninggal

Akhir – akhir ini kegiatan pendakian semakin ramai dilakukan anak – anak muda. Mereka berbondong – bondong melakukan pendakian baik itu dalam rangka merayakan tahun baru, liburan sekolah, maupun hanya sekedar penjajakan pendakian. Menikmati sunset, kabut, pemandangan serta indahnya bintang – bintang yang tidak ditemui di perkotaan seakan menjadi ekspektasi para pendaki pemula ini.

Sayangnya, euforia melakukan pendakian tidak dibarengi dengan kemampuan dan etika pendakian. Masih banyak dari mereka yang seenaknya melakukan kegiatan vandalisme di pepohonan, bebatuan dan fasilitas pendakian seperti plang penunjuk arah dan shelter, menjarah bunga edelweis atau menjadikan gunung sebagai tempat sampah. Tak sedikit dari mereka hanya bermodal nekat dan peralatan serta logistik seadanya berani melakukan pendakian. Padahal, kegiatan pendakian adalah kegiatan olahraga yang berbahaya dan mempertaruhkan nyawa. Kebanyakan dari para pendaki pemula mengabaikan resiko keselamatan hanya demi foto – foto di gunung yang sedang hits di kalangan mereka tanpa pengetahuan akan survival kit, pengatahuan dasar mengenai pendakian, persiapan yang kurang matang, dan bertindak sembrono.

Banyak korban jatuh karena kurangnya pemahaman akan hal – hal apa saja yang perlu dipersiapkan dan apa saja yang harus dilakukan ketika mendaki. Umumnya, mereka yang meninggal di gunung kurang memikirkan keselamatan dan terkesan nekat menerjang alam yang tidak bisa ditebak. Berikut ini adalah faktor – faktor mengapa banyak pendaki menjadi korban dari ganasnya gunung.

1. Kurangnya Pengetahuan akan Pendakian
Umumnya, para pendaki pemula kurang begitu mempersiapkan pendakian pertamanya. Alih – alih browsing mencari hal – hal apa saja yang perlu dipersiapkan, mereka malah terkesan nekat dengan membawa peralatan dan logistik seadanya seperti memakai sepatu kats, lupa membawa jas hujan, jaket seadanya, peralatan yang kurang memadai sampai bekal logistik yang seadanya. Kurangnya pengetahuan akan pendakian akan menjadi hal fatal dimana keselamatan pendaki dipertaruhkan. Alam tidak akan mentolerir hal tersebut. Pendaki setidaknya harus memikirkan peralatan, logistik, alam, teman sependakian, pengalaman dan yang lebih penting adalah kesiapan tubuh. Tanpa hal tersebut pendakian akan terasa kurang dan terkesan dipaksakan.

2. Buruknya Manajemen Logistik
Umumnya para pendaki menyepelekan logistik pendakian. Mereka lebih memilih mie instan sebagai logistik yang terkesan simpel dan mudah dimasak. Membawa mie instan bisa dimaklumi bila melihat waktu pendakian yang ringan seperti mendaki Gunung Prau atau Gunung Ungaran yang dapat dicapai dalam waktu sekitar 3 jam pendakian. Namun jika pendakian lebih berat sangat disarankan untuk membawa bekal makanan berupa beras untuk menanak nasi di gunung. Sebab, tingkat kalori yang dikeluarkan untuk mendaki gunung yang melebihi waktu 5 jam perjalanan pasti membutuhkan tenaga yang besar juga.
Baca Juga : Peralatan dan Logistik Pendakian
Maka dari itu, sebaiknya pendaki bukan hanya memikirkan peralatan saja namun juga mengutamakan pemenuhan kebutuhan asupan gizi dan karbohidrat sesuai takaran pada seberapa lama pendakian akan dilakukan. Dengan begitu diharapkan selama pendakian tidak ada yang namanya kelaparan atau bahkan kekurangan bahan makanan.

3. Hipotermia
Hipotermia menjadi permasalahan klasik dalam pendakian. Bukan rahasia umum kalau pendaki pemula akan merasakan gejala hipotermia apabila kurang persiapan. Dengan bekal nekad dan semangat saja belum cukup untuk mendaki. Para pendaki memerlukan adanya pemahaman akan gunung dan pengalaman. 
Baca Juga : Cara mengatasi hipotermia ketika mendaki
Sebagai contoh pendakian yang dilakukan pada musim hujan. Pada musim penghujan yang menjadi masalah bukan saat tidur tetapi pada saat perjalanan. Ketika musim hujan wajib hukumnya membawa jas hujan atau mantel yang ditempatkan di tempat yang strategis di cerier yang mudah dijangkau ketika mendadak turun hujan. Kesalaan pendaki pemula biasanya meremehkan hal ini, secara sembarangan menaruh jas hujan yang pada akhirnya kerepotan saat hujan datang dan baju basah karena hujan, baju menjadi lembap dan akhirnya menggigil.

Sedangkan pada musim kemarau suhu akan sangat dingin ketika malam hari, namun tidak perlu khawatir karena jarang ditemui hujan saat musim kemarau kecuali hujan lokal.

4. Salah Penempatan Tenda
Dalam memilih lokasi membuka tenda diperlukan pengetahuan bagian mana tempat yang aman untuk membuka tenda dan bagian mana yang tidak aman. Apabila musim penghujan kamu harus hati – hati dan jeli dalam mencari posisi membuka tenda. Usahakan untuk tidak membuka tenda di puncak, karena apabila hujan resiko tersambar petir sangat besar. Selain itu usahakan tidak membuka tenda di aliran air dan buatlah galiran sebagai lintasan air di sekitar tenda. Untuk lebih lengkapnya kamu bisa membaca artikel memilih tempat membuka tenda.
Baca Juga : Tutorial Mendirikan Tenda

5. Kurangnya Pemahaman akan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
Setidaknya dalam satu rombongan diperlukan satu orang yang memiliki pengetahuan mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan. Pertolongan pertama sangat penting pada kecelakaan di gunung sebelum selanjutnya ditangani oleh pihak basecamp. Selain itu wajib hukumnya membawa kotak P3K sebagai alat keselamatan dalam melakukan pendakian.

6. Kurangnya Pemahaman akan Navigasi
Sebelum memutuskan untuk mendaki pastikan ada salah satu dari anggota pendakian yang memahami masalah navigasi. Atau kalau tidak ada, salah satu anggota harus ada yang pernah mendaki gunung tersebut sebelumnya. Dengan hal tersebut diharapkan pendaki tidak tersesat di tengah perjalanan.

7. Kurangnya Koordinasi antar Anggota
Saat mendaki usahakan jangan ada yang menjadi sok cepat atau ketinggalan. Usahakan untuk mengerti sifat satu sama lain. Apabila ada yang kecapekan bisa break sebentar. Jangan sampai meninggalkan teman yang akan berakibat teman yang ditinggal tersebut tersesat. Usahakan untuk kompak dan saling berkoordinasi satu sama lain.

8. Alam
Salah satu yang tidak bisa dihindari adalah faktor alam yang menghambat. Faktor alam tidak bisa ditebak seperti hujan dan kabut. Oleh karena itu, pendaki harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk berhadapan dengan alam yang tidak menentu.

9. Gangguan Mahluk Halus
Bukan rahasia lagi kalau gunung merupakan tempat bagi mahluk halus. Maka dari itu sebelum melakukan pendakian usahakan berdoa dan jangan berbuat tak senonoh seperti berkata kasar. Apabila kamu merasa tersesat dan kamu merasa melewati tempat tersebut berulang kali, diam dan fikirkan dengan tenang. Berfikirlah positif dan jangan sampai anggotamu panik. Berdoa dan carilah jalan keluar dengan tenang.

Share this:

Disqus Comments