8 Tips Mendapatkan Izin dari Orang Tua untuk Mendaki

8 Tips Mendapatkan Izin dari Orang Tua untuk Mendaki

Beruntunglah bagi kalian memiliki orang tua yang pengertian dengan hobi anaknya salah satunya dalam mendaki gunung. Sayangnya tidak semua orang tua seperti itu. Beberapa orang harus memutar otak untuk bisa mendapatkan izin dari orang tuanya agar diizinkan untuk melakukan pendakian. Kejadian ini banyak terjadi bagi kamu yang masih berada pada jenjang sekolah baik SMP, SMA atau bahkan Kuliah dan bekerja. Untuk itu pada postingan kali ini akan mengulas bagaimana cara mendapatkan izin dari orang tua untuk mendaki. Diantaranya :

1. Berkelakuan Positif
Anak yang berkelakuan positif di rumah pasti lebih mudah untuk mendapatkan izin dari orang tua. Maka dari itu tunjukkanlah kelakuan baikmu jauh – jauh hari sebelum meminta izin melakukan pendakian. Jika sehari – hari saja kamu banyak ulah, menimbulkan masalah, kurang disiplin, sering teledor dan lain - lain, bagaimana orang tua akan mengizinkanmu?

2. Rencana Matang
Sebelum meminta izin kepada orang tuamu sebaiknya kamu harus sudah punya rencana matang mengenai kemana kamu mendaki? Dengan siapa perginya? Menginap dimana? Berapa lama? Kontak yang bisa dihubungi? Persiapan apa saja yang sudah kamu lakukan? Hal – hal tersebut sangatlah penting untuk orang tuamu mempertimbangkan izinnya untuk mendaki.

3. Persiapan Matang
Bekali dirimu dengan pengetahaun akan pendakian agar orang tuamu merasa yakin kamu akan baik – baik saja selama pendakian. Jadi kamu juga harus banyak membaca di situs – situs pendakian, gabung dengan forum pendakian, berolah raga, dan membuat perencanaan yang detail agar meyakinkan orang tuamu.

4. Mandiri
Sebisa mungkin hindari meminta uang kepada orang tua untuk dipergunakan mendaki. Tunjukkan bahwa kamu mandiri, dapat membiayai hobimu sendiri tanpa meminta uang dari orang tua. Perlihatkan bahwa kamu dapat hidup mandiri, tidak menyusahkan orang lain dan bertanggung jawab pada diri sendiri.

5. Bertanggung Jawab
Pikirkan baik – baik jika orang tuamu adalah tipe yang suka khawatir dengan keadaanmu. Yakinkan mereka dengan cara kamu bertanggung jawab atas apapun yang akan terjadi.

6. Mencari Dukungan
Jika usaha – usaha tersebut memang dirasa masih gagal, carilah dukungan baik dari paman, kakek, nenek, bibi, kakak atau siapapun. Bicarakan dengan mereka bagaimana mendapatkan izin dari orang tua. Mintalah bantuan mereka agar mau meyakinkan orang tuamu.

7. Perkenalkan Teman Mendakimu
Sebelum mendaki, ceritakan hal – hal mengenai teman sependakianmu baik itu keahlian, pengalaman mendaki, perilaku dan lain – lain. Selain itu perkenalkan langsung mereka ke rumahmu dan sampaikan agar bisa melihat situasi dengan berprilaku baik, meyakinkan manfaat mendaki, bagaimana mereka melakukan pendakian secara aman dan lain – lain.

8. Manfaat Mendaki Gunung
Berikan informasi kepada orang tuamu tentang segala hal positif mengenai pendakian. Bagaimana pendakian dapat berdampak positif pada dirimu. Yakinkan mereka bahwa semua yang kamu keluarkan memang benar – benar sepadan dengan apa yang akan kamu dapat.
Pendakian Ultralight

Pendakian Ultralight

Ultralight merupakan gaya pendakian dengan mengutamakan membawa alat dan logistik yang selektif dan ringan. Hal ini memang terbalik dengan pendakian biasa dengan persiapan pendakian yang berat dari logistik dan peralatan sehingga membutuhkan carrier untuk membawanya. Ultralight bukanlah mengurangi peralatan melainkan selektif pada peralatan yang ringkas serta memilih satu barang yang mampu memiliki banyak fungsi sehingga memangkas beban di carrier. Ultralight tidak hanya bisa diaplikasikan ke perseorangan saja melainkan diterapkan dalam sebuah tim pendakian.

Pendakian di Indonesia sangat khas dengan pendakian kelompok dibandingkan dengan solo hiking, tentu saja teknik ultralight akan berkembang dengan budaya ini tanpa mengurangi prinsip ultralight terlebih faktor keselamatan pendaki. Seperti layaknya pendakian biasa, ultralight juga membutuhkan perencanaan yang matang dalam setiap perjalanan tanpa mengurangi faktor keamanan.

Keamanan Ultralight dalam Pendakian
Perlu dicatat tidak ada 100% aman pada setiap pendakian. Peralatan pendakian hanyalah alat bantu dalam menyukseskan suatu pendakian. Ultralight tidak dianjurkan pada pendaki pemula. Pada dasarnya ultralight adalah melakukan pendakian dengan menggunakan alat dan logistik seringan mungkin. Alih – alih ingin melakukan seringan mungkin, pendaki pemula yang belum mengetahui seluk beluk pendakian dan keamanan akan terjebak dalam mengurangi beban dan memperlihatkan siapa yang paling ringan atau bisa disebut stupidlight. Hal ini sangat berbahaya. Jadi perlu diingat, ultralight bukan hanya sekedar “ajang lomba paling ringan” melainkan juga memikirkan keselamatan diri sendiri. Gunakan gaya ultralight secara bertahap dan seringlah berlatih dalam pendakian. Lakukan gaya ultralight tanpa mengurangi faktor keselamatan.

Peralatan Ultralight
Saat ini banyak sekali peralatan ultralight hiking yang dijual di pasaran namun tentunya dengan harga yang tergolong mahal. Berikut ini adalah peralatan ultralight yang dijul di pasaran :

Carrier
Carrier adalah komponen terpenting dalam pendakian. Sama seperti gaya pendakian biasa, pada ultralight carrier yang digunakan menyesuaikan isi dari ransel tersebut. Semakin ringkas barang yang dibawa maka semakin kecil pula ukuran carrier. Umumnya untuk pendakian selama 2 hari carrier yang digunakan berukuran maksimal 40 L atau bisa juga menggunakan daypack atau backpack dengan menggunakan prinsip ultralight dinilai sudah cukup. Saat ini terdapat beberapa merk carrier yang ada di pasaran seperti Osprey, TNF, Vaude, Berghaus dan lain – lain.

Sleeping Bag
Sleeping bag merupakan salah satu barang yang penting selama pendakian. Fungsi sleeping bag yaitu sebagai penghangat ketika tidur. Carilah sleeping bag yang ringan namun tidak mengurangi fungsi dasarnya sebagai penghangat tidur. Atau bisa juga melengkapinya dengan thermal blanket. Saat ini banyak merk sleeping bag yang dijual di pasaran seperti merk Eiger, Deuter, TNF, Makalu, Consina dan lain – lain.
Baca Juga : Mengenal Fungsi Thermal Bivvy

Matras
Matras yang dianjurkan untuk gaya ultralight adalah matras alumunium foil dengan lapisan busa yang sangat ringan dan mampu di packing hingga sangat kecil berukuran sebesar mie instan. Walaupun tipis, tapi matras ini memiliki kemampuan yang lebih baik dari pada matras sponge.

Tenda
Sangat dianjurkan menggunakan tenda double layer mengingat curah hujan di Indonesia yang cukup tinggi. Terdapat beberapa pilihan tenda diantaranya Merapi Mountain, Vaude, TNF, Kyber Pass dan lain – lain. Yang pasti usahakan jangan menggunakan flysheet jika belum terbiasa karena memperhitungkan ketahanan flysheet pada malam hari serta terpaan angin gunung.
Baca Juga : Cara Membuat Bivak
Alat Masak
Gunakan perapalatan yang ringkas seperti menggunakan nesting dan kompor gas kaleng. Pilihan lain dapat juga menggunakan kompor spirtus sebagai pengganti kompor gas.

Pakaian
Pilihlah jaket berbahan goretex karena akan memberikan isolasi terhadap dingin dan udara lembap di gunung. Untuk jas hujan kamu dapat menggunakan rain coat yang banyak di jual di toko peralatan outdoor atau dapat juga menggunakan ponco yang bisa digunakan untuk alas ketika ngecamp. Gunakan t-sirt dengan komposisi quickdry agar cepat kering dan menyerap keringat. Sedangkan pada celana bisa memilih celana berbahan parasut, ripstop atau taslan. Hindari menggunakan celana jeans karena sifatnya yang ketika basah menjadi berat dan lama keringnya. Rencanakan membawa pakaian seefisien mungkin dan jangan berlebihan atau bahkan kekurangan.

Logistik
Pilih makanan dengan kalori yang tinggi dan memiliki beban yang ringan seperti almond, selai kacang, biskuit, marsmallow, roti, cokelat, pasta, buah dan lain – lain. Hindari membawa kotak atau bungkus makanan karena akan menambah volume di ransel. Dan terakhir bawalah air secukupnya.

Peralatan Lain
Peralatan lain yang tak kalah penting yaitu kotak P3K, headlamp, survival kits, alat makan, peralatan navigasi dan lain – lain. Konsep ultralight sebenarnya hanya dibatasi pada peralatan hiking saja sedangkan untuk logistik semua diserahkan kepada kebutuhan masing – masing dan tidak termasuk dalam cakupan ultralight. Untuk memperingkas makanan, pegiat ultralight biasanya memilih dehydrated food (makanan kering) untuk memperingkas bawaan dan mempertimbangkan kepraktisan. Ultralight sangat tidak dianjurkan pada pendaki pemula karena akan sangat berbahaya apabila diterapkan tanpa tau dasar – dasar keselamatannya.

Umumnya peralatan ultralight berharga mahal jadi mungkin tidak cocok untuk kantung pelajar dan mahasiswa yang pas – pasan. Untuk prioritas utama yang dijadikan awal untuk latihan ultralight hiking bisa dimulai dari tenda, sleeping bag, matras dan baru kemudian hal – hal lain. Teknik ultralight sangat tidak dianjurkan dilakukan pada musim hujan ketimbang musim kemarau. Mengenai gear lokal atau import semua kembali ke masing – masing. Produsen lokal juga sudah mendesain peralatan ultralight dengan harga yang relatif terjangkau.

Sebagian pendaki banyak yang menyoroti penggunaan ultralight dalam kegiatan pendakian, ada yang pro ada juga yang kontra. Yang pro lebih berpendapat pada sisi positifnya yaitu dapat memperingkas barang bawaan, menikmati perjalanan dan lain – lain. Sedangkan yang kontra mereka lebih mempertimbangkan keselamatan.

Ultralight bila benar – benar diterapkan akan memakan budget yang sangat banyak. Alternatif pilihan lain adalah peralatan dari brand cina dengan harga yang lebih murah. Pada akhirnya semua bermuara pada kemauan pribadi masing- masing untuk menggunakan gaya manapun. Menggunakan gaya ultralight atau tidak semua kembali ke diri masing – masing dan kantong masing – masing hehe.
Kesalahan - Kesalahan Kecil yang Dilakukan Para Pendaki

Kesalahan - Kesalahan Kecil yang Dilakukan Para Pendaki

Selain ketahanan fisik, kecerdasan dalam melakukan pendakian juga sangat diperlukan. Kecerdasan ini diperlukan agar pendaki tidak melakukan kesalahan – kesalahan mendasar yang seharusnya tidak dilakukan. Banyak kerugian yang didapat para pendaki akibat tidak memiliki intuisi dan kecerdasan membaca alam. Berikut ini hal – hal kecil yang seringkali dilakukan pendaki yang kerap berakibat fatal dan merugikan diri sendiri.

1. Memasak di dalam Tenda
Memasak di dalam tenda memang terlihat menyenangkan apalagi ketika cuaca sedang memburuk atau diluar tenda dalam keadaan basah. Namun ada konskuensi yang harus diterima ketika memasak di dalam tenda. Selain dapat mengakibatkan tenda terbakar, memasak di dalam tenda juga dapat menyebabkan pendaki keracunan asap karbon monoksida. Jika kamu mau memasak dalam keadaan basah, gunakan bagian depan tenda untuk memasak dan pastikan terdapat ventilasi di sekitarnya.

2. Membiarkan Sleeping Bag Basah
Ini adalah salah satu kesalahan dari para pendaki. Kurangnya menejemen packing dan ketidaktahuan menjadi faktor yang banyak ditemui. Umumnya ketika mereka packing tidak memikirkan untuk mengemas barang – barang yang mudah basah seperti pakaian dan sleeping bag dengan menggunakan plastik. Padahal ancaman kehujanan yang menyebabkan sleeping bag basah sangat besar. Keadaan sleeping bag yang basah akan sangat berbahaya dan sangat mungkin dapat terserang hipotermia ketika menggunakannya. Maka dari itu ketika packing usahakan barang seperti baju dan sleeping bag lebih baik dimasukkan ke dalam plastik untuk menghindari air hujan walaupun carrier sudah dilengkapi dengan cover.

3. Pakai Sepatu “Kawe”
Untuk tampil stylish memang tidak perlu mahal, namun tidak berarti harus menggunakan barang kw. Tidak jarang para pendaki mengalami lecet pada bagian belakang kaki karena adanya gesekan yang keras dan kaku. Luka yang dirasakan memang kecil tapi hal ini akan sangat mengganggu ketika melangkah dalam perjalanan akibat rasa perih yang ditimbulkan.

4. Packing Terlalu Banyak
Sadarilah bahwa mendaki cuma sebentar dan mungkin tidak akan senyaman seperti di rumah. Maka dari itu bawalah barang seadanya dan jangan terlalu “over” dalam membawa barang. Kesalahan pada pendaki pemula biasanya pada letak packing. Mereka membawa barang – barang yang mungkin tidak terpakai di gunung dan memasukkan semua ke carrier. Akibatnya carrier menjadi sesak, penuh dan terasa berat. Menejemen packing sangat diperlukan dalam sebuah pendakian. Packing yang asal – asalan dapat menyulitkan pendaki bahkan dapat menyebabkan cidera.

5. Mendirikan Tenda pada Tempat yang Salah
Kesalahan yang kerap kali dilakukan para pendaki juga mengenai pemilihan tempat bertenda tanpa melakukan observasi karena malas atau memang sudah lelah ketika mendaki. Sebelum mendirikan tenda hendaknya pendaki melakukan observasi tempat pendirian tenda. Jangan sampai berada di bawah pohon yang lapuk atau tua, berada di jalur pendakian, berada di jalur air, dan memilih tanah dengan kontur yang rata. Hal tersebut sangat penting untuk kenyamanan ketika tidur.
Baca Juga : Mencari Tempat Mendirikan Tenda

6. Kotak P3K
Mengingat kotak P3K jarang ada yang punya, maka biasanya pendaki menyepelekan hal ini. Umumnya bagi mereka yang sudah beberapa kali mendaki dan tidak mengalami sesuatu hal yang membahayakan pasti mengesampingkan kotak P3K. Hal ini sangat umum dan jama’ dilakukan para pendaki.
Baca Juga : Perlengkapan P3K pada Pendakian
Pendakian Gunung Tambora via Desa Pancasila

Pendakian Gunung Tambora via Desa Pancasila

Gunung Tambora dikenal dengan letusan paling dahsyat sepanjang peradaban manusia. Gunung Tambora terakhir meletus pada tahun 1815 yang telah memangkas ketinggian Gunung Tambora dari 4.300 mdpl menjadi 2.851 mdpl dan menyisakan kaldera terluas di Indonesia. Gunung Tambora mendapatkan status Taman Nasional pada tanggal 11 April 2015 sekaligus merayakan 200 tahun letusannya. Gunung Tambora berada di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Terdapat tiga jalur pendakian untuk sampai di puncak Gunung Tambora, diantaranya :
  • Via Desa Pancasila 
  • Via Doro Peti 
  • Via Doro Ncanga

Jalur pendakian yang paling ramai dilewati untuk mendaki Tambora adalah jalur Desa Pancasila. Selain medan yang pendek, jalur ini juga dikenal memiliki jalur yang tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan jalur Doro Peti.

Untuk sampai di Desa Pancasila akses yang dilalui tidak mudah. Terdapat opsi menggunakan bus atau mobil untuk sampai di Desa Pancasila. Dari Bandara Hasanuddin bisa menggunakan bus yang hanya berangkat jam 7 pagi, itupun lumayan susah dicari. Opsi lain bisa charter mobil atau menggunakan travel jauh – jauh hari. Selain itu dapat juga menggunakan bus jurusan Dompu dilanjutkan bus menujuju Calabai dan dilanjutkan dengan naik ojek menuju Desa Pancasila.

Perjalanan dari Bima ke Desa Pancasila menghabiskan waktu antara 6 – 7 jam menggunakan kendaraan pribadi. Desa Pancasila merupakan desa terakhir dengan ketinggian 600 mdpl di kaki Gunung Tambora. Terdapat lapangan dimana basecamp Desa Pancasila berada.

Selain registrasi, basecamp Desa Pancasila juga menyediakan pondok untuk para pendaki bermalam sementara. Terdapat 3 unit pondok dengan model rumah panggung dengan tarif Rp. 100.000 per malam dengan fasilitas kamar mandi umum dan tempat menjemur pakaian. Pondok ini bisa menampung 4 orang.

Basecamp Desa Pancasila dikoordinir oleh Bapak Saiful Bahri atau dikenal dengan nama Bang Ipul. Bang Ipul mengkoordinir porter, guide, dan ojek yang dilakukan penduduk sekitar Desa Pancasila. Bang Ipul juga memiliki koleksi buku – buku yang membahas tentang Gunung Tambora seperti flora dan fauna, sejarah, informasi Gunung Tambora dan sebagainya. Di basecamp juga menyediakan pernak – pernik cinderamata seperti kopi Tambora, pin, gantungan kunci, kaos dan sebagainya.

Basecamp – Pos 1
Perjalanan menuju Pos 1 dari Basecamp akan menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam berjalan kaki. Namun, kamu bisa menghemat waktu hingga 30-45 menit dengan menggunakan ojek dari basecamp. Jalan dari basecamp menuju Pos 1 cukup jauh, susah dan becek apabila hujan. Tarif menggunakan ojek yaitu Rp. 50.000 – Rp.100.000 sesuai hasil negosiasi. Ojek akan mengantar sampai ke pintu hutan atau tangga beton menuju Pos 1.

Dari tangga beton menuju Pos 1 jarak tidak terlalu jauh. Jalur berupa tanah padat datar dan tidak terlalu sulit. Pos 1 memiliki ketinggian 1.200 mdpl berupa lahan datar yang cukup luas dengan shelter yang dapat dimanfaatkan untuk beristirahat. Terdapat sumber air di Pos 1 ini.

Pos 1 – Pos 2
Perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 akan ditemani dengan jalan rapat dan sempit hingga terkadang harus menebas rerumputan yang tinggi. Pos 2 berada pada ketinggian 1.280 mdpl. Pos 2 berupa lahan datar dan tidak rata sehingga nampak sempit dan hanya bisa untuk mendirikan 2 tenda saja. Terdapat shelter untuk beristirahat.Terdapat juga sumber air dan sungai di Pos 2 ini. Untuk mengambilnya kamu harus turun sejauh 15 meter tidak jauh dari lokasi pos. Selain itu, arah sungai ini juga merupakan arah menuju Pos 3.

Pos 2 – Pos 3
Dari Pos 2 dilanjutkan dengan menyebrangi sungai kecil dan naik keatas untuk melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Terdapat jalur yang cukup lebar dan licin jika basah. Jalur menuju Pos 3 lumayan rapat dan banyak ditemukan tumbuhan pakis.

Pos 3 berada pada ketinggian 1.600 mdpl dengan lahan yang paling luas selama pendakian Gunung Tambora dan mampu menampung 10 – 15 tenda. Terdapat 1 shelter untuk beristirahat, sumber air dan binatang babi hutan yang seringkali melewati daerah ini. Bisa dibilang disinilah tempat penyergapan babi terhadap para pendaki. Seringkali babi akan mencuri makanan para pendaki dan menghancurkan barang – barang di sekitar. Jadi waspadalah dalam membawa barang – barang di sekitar tempat ini dan juga ketika bertenda pada malam hari.

Pos 3 – Pos 4
Jika di Pos 3 kita menemui babi hutan sebagai binatang yang dihindari, di perjalanan menuju Pos 4 kita akan menemui jelatang. Jalan menanjak menuju pos 4 ini merupakan tempat tumbuhnya jelatang atau bisa disebut jancukan, api – api atau rengas. Tanaman ini dapat menyengat kulit apabila terkena duri yang ada di daunnya. Tumbuhan jelatang di jalur ini bervariasi dari yang berukuran kecil hingga tinggi 2 meter. Jalan akan kembali terbuka ketika akan sampai di hutan yang rapat dan ditumbuhi pepohonan besar. Pos 4 berada pada ketinggian 1.900 mdpl berupa dataran dengan tanah yang bergelombang dan tidak ada shelter. Pos 4 dikelilingi oleh pohon – pohon besar besar dan tinggi, tempat ini aman untuk beristirahat.

Pos 4 – Pos 5
Perjalanan dari Pos 4 menuju Pos 5 masih rapat dengan pohon serta trek yang menanjak. Jarak antara Pos 4 menuju Pos 5 ini merupakan jarak terpendek selama pendakian Gunung Tambora.

Pos 5 berada pada ketinggian 2.080 mdpl dengan 3 area dan hanya mampu mendirikan 1-2 tenda. Dari Pos 5 kita sudah bisa melihat puncak Gunung Tambora. Terdapat sungai kecil yang akan mengalirkan air pada saat musim hujan yaitu dengan turun sejauh 30 meter di bawah. Air yang kita dapat disini tidak sebersih air di Pos 3 dan sumber air ini merupakan sumber air terakhir selama pendakian. Carilah air bersih yang menetes tak jauh dari gua atas sungai. Jalan menuju sungai dalam keadaan kering dan merupakan jalan pendakian menuju puncak.

Pos 5 – Bibir Kaldera Gunung Tambora
Perjalanan dilanjutkan dari Pos 5 dengan turun ke sungai dan kemudian menanjak. Kamu akan menemui vegetasi cemara, perdu kecil dan rerumputan. Terdapat lokasi datar yang dapat dimanfaatkan untuk mendirikan tenda di dekat Cemoro Tunggal. Didekat lokasi ini terdapat sebuah in memoriam yang sering disebut kuburan.

Dari Cemoro Tunggal trek akan semakin menanjak. Hanya rerumputan yang mendominasi trek ini. Tidak berlangsung lama dilanjutkan dengan pasir bercampur bebatuan yang akan menyambut dan cukup menguras tenaga hingga sampai di puncak Gunung Tambora. Di area ini ketika kita menghentakkan kaki, kita akan mendengar suara yang menunjukkan terdapat sebuah rongga di dalam Gunung Tambora. Trek pasir didominasi rerumputan akan mengantarkanmu sampai ke bibir kaldera Gunung Tambora.

Kaldera Gunung Tambora memiliki diametar 7 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer. Terdapat anak gunung di kawah Gunung Tambora yang bernama Doro Afi To’i yang masih kecil dengan lubang kawah di tengahnya yang sekilas mirip dengan Gunung Tambora.

Bibir Kaldera – Puncak
Untuk menuju puncak Gunung Tambora dari bibir kaldera yaitu dengan mengambil arah kanan dengan trek berupa pasir padat yang cukup berbatu hingga sampai di puncak dengan ketinggian 2.850 mdpl. Puncak Tambora ditandai dengan adanya beton dan tiang bendera serta sebuah in memoriam di sebelahnya. Dari puncak Tambora kita dapat melihat Pulau Moyo, Pulau Sotanda dan kaldera Gunung Tambora. Jika cuaca cerah kita akan dapat melihat puncak Gunung Rinjani dan Gunung Agung di sebelah barat.

Tips Pendakian Gunung Tambora
  1. Pilih musim yang baik untuk mendaki 
  2. Pos 3 dan Pos 5 rawan babi hutan. Untuk mengatasinya, kemasi perlengkapan seperti tenda dan carrier sebelum ditinggalkan dan gantung diatas pohon agar babi hutan tidak dapat menjangkau. Babi hutan tidak hanya menyerang pada malam hari tetapi juga siang hari. Buat api kecil yang aman untuk mencegah datangnya babi hutan. 
  3. Di sepanjang jalan menuju Pos 4 akan menemukan tanaman jelatang yang mencapai 2 meter, gunakan pakaian lengan panjang atau pelindung tubuh untuk menghindarinya. 
  4. Summit bisa dilakukan dini hari maupun siang hari. Terkadang, kabut yang nampak dari bawah tidak selalu menutupi jalur pendakian di puncak. Bahkan pemandangan sunset lebih indah dari pada sunrise. 
  5. Jaga jarak dengan kawah dan jangan dekat – dekat dengan bibir kawah.

Estimasi Pendakian Gunung Tambora
Basecamp – Pintu Hutan menggunakan ojek (45 menit)
Pintu Hutan – Pos 1 (30 Menit)
Pos 1 – Pos 2 (1 Jam 40 Menit)
Pos 2 – Pos 3 (2 Jam)
Pos 3 – Pos 4 (1 Jam)
Pos 4 – Pos 5 (40 Menit)
Pos 5 – Cemoro Tunggal (50 Menit)
Cemoro Tunggal – Bibir Kawah (2 Jam)
Bibir Kawah - Puncak (20 Menit)
Biografi Ronny Lukito

Biografi Ronny Lukito

Bagi para pecinta alam pasti tidak asing dengan produk Eiger. Produk Eiger saat ini memang menjadi gear lokal yang paling diminati di Indonesia baik dikalangan para pegiat alam maupun masyarakat umum. Eiger didirikan oleh Ronny Lukito seorang pengusaha tas yang lahir pada tahun 1962 di Bandung. Ronny Lukito merupakan anak ke tiga dari enam bersaudara pasangan Lukman Lukito dan Kurniasih. Ronny memiliki darah campurn Buton, Sumatera dan Jakarta. Kedua orang tuanya menyambung hidup dengan cara berjualan tas. Ekonomi keluarga ini sedikit memprihatinkan. Orang tua Ronny Lukito bukanlah orang berada. Di masa remajanya, Ronny tinggal di Bandung. Ia merupakan remaja yang rajin dan tekun, dia bukanlah lulusan perguruan tinggi melainkan hanya lulusan STM.

Sebenarnya ia sangat menginginkan melanjutkan studinya keperguruan tinggi swasta di Bandung, namun ketiadaan dana membuat Ronny mengurungkan niatnya. Sejak ia STM, Ronny biasa berjualan susu yang dibungkus dalam plastik kecil, diikat dengan karet dan kemudian dijual ke rumah – rumah dengan motor miliknya. Masa remajanya dilewati dengan kesederhanaan dan jauh dari kata serba ada. Hidup di tengah keadaan yang pas – pasan tidak menyurutkan semangat Ronny Lukito. Orang tuanya yang sebagai penjual tas membuat Ronny kecil sudah terbiasa melihat proses produksi sebuah tas. Bahkan, ia bersama saudaranya juga ikut terjun langsung ke bisnis tersebut. Dari proses packing tas, merapikan tas di display, serta menjaga kasir bila ada pembeli. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi modal awal Ronny dalam berbisnis tas dan mengikuti jejak orang tuanya. Tak terpikirkan oleh Ronny akan menjadi pengusaha. Bahkan orang tuanya pun tidak mengarahkannya untuk menjadi pengusaha. Semenjak lulus STM, Ronny berpikiran realistis dalam melihat perekonoman keluarga. Lantas ia memprioritaskan membantu berjualan orang tuanya.

Sejak tahun 1976, ketika itu Ronny masih duduk di bangku STM, toko tas ayahnya mulai menjual produknya sendiri dengan merk Butterfly. Nama ini diambil dari nama sebuah merk mesin jahit buatan Cina yang mereka pakai. Ronny sendiri membantu membeli bahan dan mengantarkan barang dagangan ke pelanggan. Bahkan, sebelum berangkat sekolah, Ronny masih sempat berjualan susu dan sepulang sekolah ia bekerja di bengkel motor sebagai montir. Ronny mudah menyerap ilmu yang diberikan ayahnya. Tak lama bekerja di toko ayahnya, Ronny lantas memulai usaha tasnya sendiri.

Pada tahun 1979, Ronny menginginkan melanjutkan kuliah, namun orang tuanya tidak sanggup membiayai. Oleh karena itu, ia memutuskan memulai mengembangkan bisnis pembuatan tas. Sedikit demi sedikit keuntungan dari berjualan tas didapatkan. Keuntungan dari bisnis ini selanjutnya dikembangkan dengan menambah mesin jahit, peralatan jahit, dan bahan baku pembuatan tas. Dengan bantuan pegawainya yang bernama Mang Uwon, Ronny melanjutkan memproduksi tasnya. Produk tas Ronny mulai dimasukkan ke Matahari pada periode tahun 1983 – 1984 dan mengajukan sebagai pemasok. Namun sayangnya ia ditolak hingga pengajuan ke 13 barulah produknya diterima dan saat itu harga per satu tas belum sampai Rp. 300.000

Strategi pemasaran mulai dijajakinya. Ia mulai terjun sendiri ke daerah – daerah untuk mencari pengecer baru untuk mempermudah pemasaran produknya. Ia rajin berkeliling ke daerah – daerah. Ia membuang kemalasannya dan sadar akan masa depan. Ia berangkat ke kota – kota lain guna mempromosikan produknya, membangun mitra dan jaringan pasar. Ia juga memutuskan untuk meggunakan jasa konsultan dan belajar privat tentang menejemen serta kursus keuangan. Bila ada seminar atau kursus yang bagus ia selalu mengikutinya. Banyak juga buku – buku yang relevan yang ia baca sebagai pengembangan diri.

Pada tahun 1984, Ronny sudah mampu membeli rumah seluas 600 m2 untuk menambah produksinya. Dua tahun kemudian pada tahun 1986, Ronny membeli tanah lagi seluas 6000 m2 guna menambah ruang produksi. Setelah tahun 1986 dia mulai merekrut marketing profesional. Dia belajar banyak mengenai peluang pasar bisnis tas serta lika - liku di lapangan. Akhirnya, cita – cita Ronny menjadi pemain besar mulai terlihat setelah Matahari, Gramedia, Gunung Agung dan dept store lain mulai menjual produknya seperti Eiger, Export dan Bodypack. Tak hanya produk tas, Ronny juga mengembangkan bisnisnya ke produk lain seperti dompet, sarung handphone, jaket dan lain - lain. Salah satu kebiasaannya adalah kemauannya untuk belajar dan mengembangkan diri. Dengan cara inilah ia berkembang dan sukses hingga saat ini.
Baca Juga : Merk Outdoor Gear Lokal dan Impor

Merk Produk Perusahaan B&B dari Ronny Lukito
PT. Eksonindo Multi Product Industry milik Ronny Lukito berhasil menjual merk yang mampu menguasai pasaran Indonesia bahkan hingga ke luar negeri seperti Libanon, Singapura, Filipina, dan Jepang. Masing – masing merk memliki ciri kas sendiri, diantaranya :

Eiger
Eiger berdiri pada tahun 1993. Nama Eiger diambil dari gunung yang ada di negara Siwss yaitu Gunung Eiger. Eiger ditujukan pada kegiatan outdoor seperti pendakian, camping, panjat tebing dan aktifitas outdoor lain. Saat pertama terbentuknya Eiger, saat itu Eiger belum memiiki toko hanya sebatas kontrakan yang difungsikan sebagai kantor. Pada tahun 1998 Eiger mulai memproduksi produknya sendiri dengan diawali 2 tukang jahit hingga kini mencapai 800 penjahit di pabrik wilayah Soreang, Bandung.

Exsport
Melihat perkembangan perusahaan yang semakin pesat, Ronny mulai membangun tempat produksi baru di Kopo Bandung dengan luas lahan 6000 m2 serta dengan merk baru yaitu Exxon. Selanjutnya, Ronny mengira bahwa Exxon lebih mirip perusahaan minyak bernama Exxon Mobil Corporation, maka ia mengganti nama Exxon di perusahannya menjadi Exsport. Exsport ditujukan pada anak muda khususnya putri dengan desain dan warna yang khas.

Bodypack
Bodypack ditujukan pada penunjang keseharian di kalangan anak muda yang berjiwa muda. Pasaran yang ditargetkan adalah mahasiswa dan orang kantor yang membawa laptop dan gadget dalam keseharian.

Neosack
Neosack ditujukan pada perlengkapan sekolah dengan target remaja SLTP dan SMU. Xtreme
Produk Xtreme ditujukan untuk kebutuhan pengendara motor khususnya pria dari ujung kaki hingga ujung kepala. Produk ini memiliki tagline “The Ultimate Riding Gear”.

Nordwand
Seperti produk Eiger, Nordwand juga ditargetkan pada para pegiat alam namun dengan harga setingkat dibawah Eiger.

Dalam setahun, perusahaan ini setidaknya mampu memproduksi 2.500.000 tas dengan 8.000 desain berbeda. Dengan keluarnya berbagai macam merk serta fungsi yang lebih spesifik, diharapkan produk mereka akan mampu menguasai pasaran. Model yang lagi trend di internasional menjadi acuan pengembangan produknya. Dengan didukung desainer yang berasal dari berbagai universitas seperti ITB maupun Trisakti perusahaan ini setidaknya mampu mengembangkan 40 model tas setiap bulan.
Gunung - Gunung Angker di Jawa Tengah

Gunung - Gunung Angker di Jawa Tengah

Banyak cerita mengenai kemistisan suatu gunung. Sebagian gunung di Jawa bahkan dikeramatkan. Banyak yang percaya bahwa gunung memiliki penunggu. Adat dan istiadat di gunung harus dipatuhi sebagai bentuk penghormatan “penghuni gunung”. Larangan pun disuarakan bagi para pendaki seperti tidak bicara kasar, dilarang melakukan asusila, larangan mendaki pada hari – hari tertentu hingga melakukan hal – hal tertentu yang akan berakibat buruk bagi si pendaki. Larangan ini bukannya tidak berdasar, penduduk setempat sudah mengenal gunung tersebut jauh sebelum tren mendaki naik daun. Gunung seperti Gunung Agung di Bali bahkan dilarang melakukan pendakian tanpa adanya porter. Hal ini disebabkan banyaknya korban yang tersesat konon “dibelokkan” oleh penunggu gunung, ada juga yang bilang melihat leak di Gunung Agung. Beberapa gunung di Jawa Tengah dianggap angker dan memiliki cerita – cerita mistis. Setidaknya ada 7 gunung di Jawa Tengah yang dikenal angker dan memiliki cerita – cerita mistis, diantaranya :

1. Gunung Merbabu
Gunung Merbabu merupakan gunung yang sangat laris setiap kali pendakiannya dibuka. Dengan lanskap alam yang memanjakan mata berupa sabana yang luas dan pemandangan yang menakjubkan membuat Merbabu menjadi destinasi yang wajib dikunjungi pendaki di Jawa Tengah. Namun dibalik keindahan panorama indah tersebut Gunung Merbabu menyimpan cerita – cerita mistis yang berkembang di masyarakat.

Salah satu cerita mengenai cerita mistis di Gunung Merbabu adanya pendaki yang telah lama meninggal namun membantu menolong para pendaki yang terkena badai. Cerita ini saya dengar ketika melakukan pendakian di pertengahan tahun 2015. Saat itu ada yang bercerita bahwa pernah ada kelompok pendaki yang telah sampai di sabana 1 dan kesulitan membuat tenda karena saat itu sedang kondisi badai dan pendakian sedang sepi – sepinya. Ketika sedang membuka tenda tiba – tiba ada seorang pemuda yang membantunya. Mereka asik membuka tenda dan saling bekerjasama walaupun saat itu sedang badai. Saat membuka tenda salah satu regu pendakian tersebut bertanya pada orang baru yang membantunya dalam membuka tenda. Ia bertanya namanya siapa dan asalnya dari mana. Lalu pemuda itu menjawab namanya sebut saja si Agus dan berasal dari Jakarta. Setelah membuka tenda, si Agus tiba – tiba menghilang. Regu tersebut tidak sempat berterimakasih maupun meminta kontak hp orang yang menolong tersebut. Singkat kata mereka ngecamp, summit attack dan turun ke basecamp Selo.

Setibanya di basecamp mereka bertanya pada petugas basecamp apakah ada yang bernama Agus dari Jakarta yang mendaki pada tanggal tersebut, apakah sudah balik atau belum dan ada kontaknya untuk berterimakasih pada orang tersebut. Di cek lah daftar orang – orang yang mendaki pada hari tersebut. Dan anehnya tidak ada yang mendaki dari rombongan orang Jakarta. Setelah diingat – ingat oleh petugas basecamp, orang tersebut sama persis dengan nama orang yang hilang di gunung merbabu pada tahun lalu.

2. Gunung Ungaran
Gunung Ungaran terletak di Kabupaten Semarang, tepatnya di Kecamatan Bandungan. Di gunung ini juga banyak hal mistis yang terjadi. Saya pernah dengar cerita bahwa bangunan rumah di pendakian Gunung Ungaran tepatnya sebelum kebun teh (jika lewat basecamp Mawar). Disana pernah ada yang mengaku melihat sosok nona Belanda, menggunakan baju warna putih yang lewat ketika mereka sedang duduk – duduk beristirahat. Pendakian tersebut dilakukan dua orang dan kebetulan pada saat itu memang lebih sepi dari biasanya. Kedua pendaki tersebut dilewati nona Belanda, namun mereka tetap diam dan tidak bereaksi ketika dilewati. Barulah ketika nona Belanda tersebut mulai menghilang mereka baru mulai melanjutkan perjalanan kembali.

Sekitar pertengahan 2015 sebanyak 84 pendaki tersesat ketika mendaki Gunung Ungaran. Tersesatnya pendaki ini tidak terlepas dari aura mistis Bukit Gentong salah satu bukit di Gunung Ungaran. Mereka mendaki bukan dari Mawar maupun Medini, melainkan dari Desa Kalisidi jalur tengah antara Mawar dan Medini. Dijalur ini memang terkenal angker dan banyak membuat pendaki tersesat. Benar saja, perjalanan yang sebenarnya dapat ditempuh dua jam perjalanan malah hanya berputar – putar selama delapan jam. Untungnya mereka ditemukan karena mereka tidak membawa perbekalan yang cukup dan alat perkemahan.

3. Gunung Merapi
Lokasi terangker di Gunung Merapi mana lagi kalau bukan Pasar Bubrah. Gunung Merapi dianggap memiliki hubungan dengan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan Jawa. Gunung Merapi dikenal sebagai gunung yang angker karena konon katanya gunung ini mempunyai kerajaan dedemit. Hal ini dituturkan oleh Mbah Marijan sebagai kuncen Gunung Merapi. Makhluk – makhluk astral tersebut hanya akan menampakkan sesekali saja kepada orang – orang yang mendaki Gunung Merapi.

Pasar Bubrah merupakan dataran sebelum sampai di puncak Merapi dan spot camp terakhir di Gunung Merapi sebelum summit attack ke puncak Merapi. Di Pasar Bubrah ini, dipercaya setiap malam Jum’at akan terdengar ramai ketika malam hari layaknya pasar malam. Suara gamelan dan gending Jawa akan terdengar walaupun tidak terlalu keras. Keramaian juga akan terdengar dengan suara gaduh deru angin gunung. Kejadian ini akan semakin menghilang ketika matahari mulai menampakkan dirinya.

Ada yang menuturkan pernah melihat orang – orang yang turun untuk pergi ke Pasar Selo untuk berbelanja. Orang – orang tersebut diketahui memang bukan dari makhluk manusia melainkan makhluk halus yang berwujud manusia. Ada juga bule yang bercerita bahwa pernah melihat orang – orang berpakaian adat Jawa dengan menggunakan kuda melewati Pasar Bubrah.

Salah satu teman saya pun ada yang bilang bahwa antara Ungaran, Merbabu dan Merapi memiliki sebuah lorong astral yang tidak bisa diliat oleh orang biasa. Lorong tersebut menjadi penghubung dunia gaib. Pernah disuatu hari dilakukan percobaan. Tiga rombongan mendaki gunung masing – masing ke Ungaran, Merbabu dan Merapi. Mereka berjanjian untuk membunyikan lonceng tepat pada pukul 12 malam. Selanjutnya mereka mendaki dan summit hingga tepat 12 malam ketiga regu pendakian sampai di ketiga gunung tersebut. Tepat pukul 12 malam mereka membunyikan lonceng selama kurang lebih 10 menit. Dan apa yang terjadi? BMKG mencatat ada gempa kecil yang terjadi di sekitar Jogjakarta. Entah hal tersebut terjadi karena lonceng, sebuah kebetulan atau tidak itu hanyalah sebuah misteri.

4. Gunung Lawu
Gunung Lawu sangat dikenal para peziarah terutama penganut ajaran Kejawen. Gunung ini dikenal sebagai tempat meninggalnya raja Majapahit, Brawijaya V. Dipercaya Brawijaya V moksa atau mati tanpa meninggalkan jasad di Gunung Lawu. Konon disini juga ada Pasar Setan layaknya Pasar Bubrah di Gunung Merapi. Jika kamu mendengar suara “Arep tuku apa mas / mbak?” yang artinya “Mau membeli apa mas / mbak?” maka sebaiknya kamu membuang uangmu berapapun nilainya. Lalu petik atau ambillah sesuatu di gunung tersebut layaknya kamu membeli sesuatu. Jika tidak, konon kamu akan mendapat masalah di Gunung Lawu.

Di Gunung Lawu ada pantangan menggunakan baju warna hijau karena dipercaya warna hijau adalah warna busana dari penguasa laut selatan Jawa yakni Nyai Roro Kidul. Selain itu jangan mendaki Gunung Lawu dengan jumlah ganjil karena akan mendatangkan kesialan. Gejala mistis lain yang sering dirasakan para pendaki adalah suara gamelan di sekitar puncak serta penampakan candi – candi khas Majapahitan serta hantu pocong.

5. Gunung Sindoro
Gunung Sindoro terletak di Temanggung yang konon memiliki kemiripan lanskap dengan Gunung Sumbing yang berada di Temanggung dan Wonosobo. Terdapat larangan untuk tidak mendaki gunung ini pada pasaran Wage dan Selasa Kliwon. Hal yang menjengkelkan di Sindoro adalah adanya “pedhut ireng” atau kabut hitam yang seringkali membuat pendaki tersesat. Hal lain yang diwanti – wanti tetua desa di jalur Sigedang adalah untuk menghindari berurusan dengan ular. Karena ada kejadian seorang pendaki membunuh ular, dia lalu dikeroyok oleh ribuan ular.

6. Gunung Sumbing
Gunung Sumbing terletak di Wonosobo dan Temanggung Jawa Tengah. Menurut cerita yang beredar, antara pos 1 dan pos 2 dipercaya ada raja raksasa penunggu Sumbing. Masyarakat sekitar sangat menjaga lokasi jembatan ini. Selain itu di Pasar Watu konon ada wanita gaib yang bernama Sundel Bolong. Entah itu mirip seperti di film yang diperankan Suzanna atau tidak.

7. Gunung Slamet
Banyak yang menganggap bahwa Gunung Slamet merupakan gunung paling angker di Indonesia. Gunung tertinggi kedua di pulau Jawa ini mempunyai cerita bahwa apabila gunung ini meletus maka pulau Jawa akan terbelah menjadi dua. Puncak Slamet bernama Puncak Surono. Menurut cerita Surono adalah seorang pendaki yang terpeleset ke jurang Gunung Selamet tersebut.

Jalur pendakian Bambangan dianggap sebagai jalur paling sakral dan merupakan awal memasuki kerajaan gaib Gunung Slamet. Terdapat dua pohon besar yang tampak seperti gerbang seakan menyambut para pendaki. Setelah itu kita akan masuk pos 2 yang bernama Samarantu (konon berasal dari kata samar dan hantu artinya hantu yang tidak terlihat). Para pendaki sangat menghindari bertenda disini karena dari cerita yang beredar banyak pendaki yang diganggu oleh makhluk gaib ketika bertenda disini.

Jalur Guci juga memiliki cerita tersendiri. Cerita yang beredar di sekitar Plawangan ada makhluk kerdil yang berkeliaran. Dari cerita yang ada, makhluk kerdil tersebut dipercaya berasal dari pendaki yang tersesat. Untuk menghindari kelaparan ia kemudian memakan daun – daunan layaknya hewan. Lama kelamaan pendaki tersebut kehilangan jati dirinya sebagai manusia dan bertindak layaknya hewan. Makhluk kerdil tersebut ketakutan melihat para pendaki. Seringkali ketika para pendaki mendirikan tenda, bekas makanan yang tercecer di luar tenda akan diambil oleh makhluk ini tanpa disadari si pemilik tenda.

Di sekitar tempat ini juga terdapat mata air yang bisa diminum. Namun untuk mengambilnya kita perlu membawa kemenyan yang dibakar kemudian mengucapkan bacaan – bacaan tertentu. Gunung Slamet seringkali didatangi pencari pesugihan. Ada sebuah tempat di Gunung Slamet yang dipercaya bisa mendatangkan berkat bagi pengunjungnya.

Terlepas kita percaya atau tidak mengenai cerita dan mitos diatas, kita anggap saja hanya hal tersebut sekedar pengetahuan. Pandangan masing – masing individu mengenai hal – hal gaib berbeda – beda. Ambil sisi positifnya, usahakan tetap berlaku sopan di gunung. Hormati adat setempat dan jangan langgar pantangan yang diberikan. Salam lestari.
Tips Menghindari Babi Hutan di Gunung

Tips Menghindari Babi Hutan di Gunung

Hutan dan gunung merupakan habitat asli dari hewan – hewan liar. Bahkan, sebagian besar gunung – gunung di Indonesia telah masuk menjadi Taman Nasional untuk melindungi hewan – hewan liar ini. Sebagian hewan liar akan menghindari bertemu langsung dengan manusia sedangkan sebagian yang lain akan mengganggu. Salah satu hewan liar yang mengganggu adalah babi hutan.
Baca Juga : 5 Hewan Liar yang akan Kamu Temui Ketika Mendaki
Babi hutan kerap mendatangi camp para pendaki untuk mencari makanan – makanan sisa dari para pendaki. Tak jarang babi hutan akan mencuri dengan merusak tenda untuk mencari makanan yang ada di dalam tenda. Tentu saja hal ini sangat mengganggu bagi para pendaki. Sebelum babi hutan menyerang, biasanya para pendaki sudah mendengar desas – desus adanya babi hutan di pos pendakian. Hal ini adalah pertanda bahwa kita harus bersiap – siap akan datangnya babi hutan. Berikut ini adalah tips – tips untuk mencegah gangguan dan serangan babi hutan :
  • Simpan Peralatan dan Logistik dengan Baik
Babi hutan akan datang ketika manusia dalam keadaan tidak aktif seperti ketika sedang tidur pada malam hari atau sedang meninggalkan tenda dalam waktu yang lama. Sebisa mungkin lakukan pencegahan dengan menyimpan logistik dan peralatan. Jika sudah mengetahui akan desas – desus adanya babi hutan, maka simpanlah makanan dengan baik. Taruh makanan di tempat yang cukup tinggi didalam tas seperti di pohon agar sekiranya babi hutan tidak bisa mencapainya. Packing tenda dan gantung apabila akan meninggalkan dalam waktu lama.
  • Hindari Makanan Berbau
Bau amis pada daging dan ikan akan menarik babi hutan untuk datang. Setalah makan bungkus sampah dan gantung di tempat yang tinggi, jauhkan dari tenda atau bakar habis untuk menghilangkan bau makanan.
  • Bertenda Jauh dari Area Sampah
Babi hutan pasti akan mengitari area sampah untuk mencari makan sisa dan mungkin juga akan datang ke tenda. Bereskan sampah seperti bungkus sisa makanan yang bisa menarik datangnya babi hutan.
  • Nyalakan Api di Sekitar Tenda
Hewan liar takut akan api dan asap. Buatlah api unggun kecil di dekat tenda dengan jarak aman. Jaga api agar tetap menyala. Walaupun mati selagi masih mengeluarkan asap hewan liar seperti babi tidak akan datang. Babi hutan bisa datang pada siang maupun malam hari dimana manusia tidak aktif atau tidak sedang berada di tenda. Maka dari itu lakukan pencegahan dengan mengemas tenda dan mengamankannya dari babi hutan. Salam lestari.